Entah
"Perhatian-perhatian kecil yang keluar dari hati tetap dapat menyentuh hati. Tidak melulu diperlukan hal besar untuk menyentuhnya." -Mel (no last name)
Kata pepatah, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, bukan? Ya, pepatah itulah yang paling tepat menjadi awal cerita saya. Semua hal, bahkan debu pun, jika sedikit demi sedikit terkumpul, lama-lama akan jadi tumpukan debu. Begitu juga perasaan.
Siapa yang tidak tersentuh hatinya ketika ada seseorang yang dengan segala kebaikannya membuat kamu terasa spesial bagi dia? Satu kali, dua kali, saya masih bisa paham dan mengartikan sikap dan perilaku baiknya masih di dalam batas. Namun, jika sikap dan perilakunya stabil seperti itu dalam jangka waktu yang cukup lama, apa yang harus saya interpretasikan atas itu semua?
Perhatian-perhatian kecil yang kamu berikan ke saya membuat saya memiliki berbagai interpretasi yang sangat kaya. Entahlah, apakah kamu memiliki maksud lain selain yang saya maksudkan? Saya juga tidak tahu. Apakah ini salah kamu yang selalu memberi perhatian kecil itu ke saya sehingga timbul perasaan yang lain ke kamu? Atau saya yang salah interpretasi atas semua perhatian kamu? Entahlah.
Otak saya terus menerka dan membuat-buat berbagai kemungkinan skenario. Kenapa? Karena tidak pernah ada kejelasan yang diberikan kepada saya. Wajarkah saya begitu? Saya masih terlalu abu untuk menginterpretasikan segala sikap dan perilakunya.
Saya terus berusaha menurunkan berbagai ekspektasi yang melambung tinggi. Saya sayang diri saya sendiri. Dengan menurunkan ekspektasi tersebut, setidaknya hati saya bisa diselamatkan. Tapi tidak jarang ekspektasi tersebut sedikit demi sedikit tercerahkan. Saya mulai kembali menerka dan menebak berbagai kemungkinan. Di waktu lain, ekspektasi itu dapat hilang dengan sekejap karena realita. Saya bingung. Entah sudah berapa ribu kali saya mengucap kalimat tersebut di kehidupan nyata.
Pada akhirnya, perasaan yang tumbuh karena berbagai interpretasi yang tidak pasti itu membingungkan. Ya, perasaan itu selalu ada buat kamu sejak lama. Membuat-buat berbagai terkaan itu aneh dan sakit. Mungkin bagi beberapa orang, mereka menikmati tiap detiknya menjadi bayangan bagi seseorang. Tapi bagi saya, kejelasan adalah harga mati dalam kasus ini. Masalahnya, saya tidak tahu apakah saya sanggup jika harus memulai kejelasan itu atau saya harus tunggu kamu yang nanti akan membuatnya jelas?
Hahaha masalah hati dan perasaan memang sulit. Saya akan tunggu kamu, sampai kamu sanggup memberi kejelasan ke saya. Entah secara langsung atau tidak, dan entah kapan.
Atau, saya salah menginterpretasi semua ini? Jawabannya akan menjadi ambigu karena terkadang ekspektasi dan kenyataannya berbeda. Bisa manis, bisa pahit.
Selamat menerka :)
Komentar
Posting Komentar