Hidup Pasca Kuliah

Bisa dibilang tahun 2016 adalah tahun dimana saya banyak mengeluarkan airmata. Kenapa? Hal ini dikarenakan saya belum juga mendapatkan pekerjaan di enam bulan setelah saya lulus. Mungkin bagi sebagian orang, hal ini bukanlah masalah yang besar, tapi bagi saya.. Ya begitulah.

Bulan Juli 2016, saya akhirnya memutuskan untuk menjadi guru honorer Bahasa Inggris di sebuah SD Negeri. Menjadi seorang guru bukanlah passion saya, selain itu saya tidak memiliki bakat dasar menjadi seorang guru (saya awkward dan kaku sekali dalam mengajar anak-anak huhu). Tapi saya berpikir mungkin hal tersebut akan muncul setelah beberapa bulan saya mengajar. Enam bulan berlalu dan di enam bulan itu pula saya berusaha menguatkan diri saya sendiri untuk bertahan menjadi guru sampai saya mendapat pekerjaan baru. Di enam bulan itu pula, saya harus bertahan dengan tekanan yang semakin lama semakin terasa melelahkan.

Di enam bulan itu, minat saya untuk melamar pekerjaan semakin menurun karena tekanan yang datang dari orang-orang terdekat saya. Entah mengapa bukan motivasi yang didapat, namun justru demotivasi? Hehe mungkin karena sudah lelah ya. Tapi demi mereka juga, saya tetap memenuhi beberapa panggilan wawancara kerja. Hasilnya? Tidak ada yang lolos. Tidak apa, masih banyak kesempatan dan itu bukan rezeki saya.

Bulan Desember 2016, saya mendapat tawaran untuk bekerja di salah satu unit pemerintah daerah. Di saat yang bersamaan, saya juga sedang menunggu pengumuman final seleksi sebuah lembaga negara. Saya pun sangat bingung. Saya banyak bertanya pendapat keluarga dan teman-teman dekat saya. Banyaknya pendapat-pendapat dari orang lain, semakin membuat saya condong ke satu pilihan.

Singkat cerita, saya lolos seleksi akhir di lembaga negara tersebut. Sementara saya harus memberi kepastian kepada tawaran pertama--apakah saya akan melanjutkan kerja di unit pemerintah daerah tersebut atau tidak. Saya semakin galau. Lagi-lagi ada airmata yang harus keluar karena saya berada di dua pilihan yang sulit. Saya pun sholat istikharah.

Satu hal yang selalu saya pegang teguh bahwa ridho Allah adalah ridho orang tua. Saya di hari penentuan antara dua pilihan tersebut, menelepon Mama saya sambil menangis. "Yaudah ambil yang di situ aja (tawaran pertama). Mama kayaknya lebih sreg sama yang itu. Deket juga kan kantornya. Tapi balik lagi ke kamunya". Setelah Mama saya berucap seperti itu, saya mantap memilih tawaran pekerjaan pertama tersebut.

Sungguh, bukan hal yang mudah memilih dua hal yang sudah saya tunggu-tunggu cukup lama dan penuh drama selama ini. Dua-duanya bagus. Tapi saya harus pilih salah satu yang terbaik untuk saya dan sekeliling saya. Saya memilih tempat saya bekerja dibanding dengan lembaga negara itu tentu dengan banyak pertimbangan pribadi. In shaa Allah di tempat saya bekerja sekarang saya bisa membawa manfaat untuk orang lain, aamiin.

Semoga ini adalah pilihan yang bisa mengantarakan saya ke kebaikan-kebaikan yang Allah ridhoi, aamiin allahuma aamiin.

Salam setrong!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Entah

Filosofi Mengendarai Motor

Bloom & Fall