Terburu-Buru

Setiap dari kita pasti pernah mengalami masa dimana kita melakukan sesuatu secara terburu-buru.

Terburu-buru berangkat sekolah.
Terburu-buru memakai baju.
Terburu-buru memasak.

Kadang, hasil dari sesuatu yang terburu-buru itu tidak maksimal. Selalu saja ada yang terlupa. Entah buku tulis yang tertinggal, baju yang terbalik saat dipakai, atau lupa memasukkan garam ke masakan. Pasti selalu ada saja yang tertinggal. Memang tidak selalu, tetapi intensitasnya sering.

Begitu pun saya, terburu-buru menyimpulkan sesuatu. Bahwa dia adalah "the one" yang selama ini saya tunggu. Begitu terlenanya saya dengan apa yang dunia sajikan, sehingga lupa melibatkan Allah swt dalam banyaknya langkah. Saya yang begitu egois justru hanya melibatkan Allah swt tatkala saya berdoa tentangnya di setiap sujud dan meminta Allah untuk menjadikannya jodoh terbaik saya. Saya terbawa arus perasaan yang begitu deras kepadanya sampai saya melupakan diri saya sendiri. Begitu pentingnya dia bagi saya, begitu takut kehilangannya, begitu berharganya dia untuk saya, sampai saya lupa bahwa bukan seperti itulah cinta yang semestinya.

Saya selalu berusaha memberikan usaha terbaik saya dalam setiap bagian hidupnya, sehingga tanpa sadar saya lupa untuk meninggalkan sedikit saja hal tersebut untuk diri saya sendiri. Rasanya ingin sekali saya terus membahagiakannya, membantunya dalam segala kesusahan, berada di sisinya apapun keadaannya, selebrasi bersama momen bahagia, dan memenuhi segala harapannya. Namun terkadang dunia berjalan tidak sesuai harapan. Harapan yang diciptakan oleh manusia sendiri hingga akhirnya saat tidak sampai disana, kecewalah yang menyambut. 

"Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia." (Ali bin Abi Thalib)

Ada satu masa dimana harapan saya runtuh bersamaan dengan beberapa kenyataan yang sulit dicerna. Begitu angkuhnya saya merasa bahwa apa yang kami jalani ini akan baik-baik saja. Ternyata harapan memang seharusnya hanya menjadi harapan jika tidak melibatkan Tuhan sepenuhnya. Rasanya sulit menggambarkan perasaan saya setelah dihadapkan oleh kenyataan-kenyataan yang tidak sesuai harapan. Saya harus akui bahwa tiga bulan ke belakang ini adalah masa-masa turning point bagi saya. Sedih, marah, kecewa, takut, mau tidak mau harus menjadi teman akrab saya. Dalam setiap usaha saya untuk bangkit, tak dipungkiri perasaan-perasaan itu selalu dekat dan menyapa saya kembali.

Awalnya semua terasa begitu gamang. Saya tidak tahu mana yang harus saya turuti, hati atau pikiran? Kadang hati dan pikiran tak mau berjalan beriringan. Semua terasa tidak memiliki arah yang jelas. Di saat-saat inilah saya yang egois berusaha menahan malu berjalan sedikit demi sedikit mendekati Allah swt. Malu sekali rasanya harus menengadahkan tangan dan melantunkan doa meminta pada-Nya dengan banyaknya dosa.. Sampai di satu titik saya tersadar bahwa saya terlalu jauh dari Sang Pencipta. Terlalu jauh hingga Dia merindukan saya untuk mengingat-Nya kembali. Terlalu jauh hingga apa yang saya jaga sepenuh hati selama ini--yaitu dia--harus rela saya lepaskan karena hati saya tak kunjung mendapat ketenangan dan penuh pertanyaan. 

Akhirnya saya memutuskan untuk menutup hubungan kami. Ya, keputusan itu diambil. Kali ini, saya tidak ingin terburu-buru. Sangat berat memang, namun saya sudah mempertimbangkan banyak hal dan memikirkannya matang-matang. Berat sekali rasanya harus mengubah kebiasaan yang sudah saya jalani selama ini, membuat saya pada akhirnya memiliki kelekatan yang cukup dalam dengannya. Ketika kelekatan itu harus hilang dan berubah menjadi dingin, sebagai manusia biasa saya tidak menampik kalau saya tidak baik-baik saja. Tetapi inilah pilihan yang harus diambil, inilah konsekuensi yang harus dihadapi. Proses adaptasi terhadap keadaan yang baru memang membutuhkan ketidaknyamanan yang luar biasa. Proses penerimaan akan kenyataan di depan mata yang tidak sesuai harapan memang bukan suatu hal yang mudah.

Saya sadar bahwa saya terlalu terburu-buru.

Terburu-buru untuk yakin bahwa dia yang akan jadi teman hidup.
Terburu-buru membangun ruang di hati saya hanya untuknya.
Terburu-buru melambungkan harapan yang berujung kecewa.

Menempatkan ciptaan-Nya di hati saya adalah sebuah kekeliruan yang tidak saya sadari. Seharusnya saya hanya perlu menggenggamnya dengan tangan dan berserah kepada-Nya Sang Pemilik Segala. Ketika pada akhirnya dia harus pergi dan meninggalkan hati saya, akan ada luka yang harus ditinggalkan. Jika dia saya genggam dengan tangan, tentu luka yang ditorehkan tidak sesakit itu. Memang semuanya memberikan hikmah yang harus disadari dan diresapi. Memang seharusnya kita hanya berharap kepada Allah swt., bukan ciptaan-Nya yang bersifat sementara dan mudah berubah. Beruntungnya saya masih diberikan kesempatan untuk melihat segalanya dari kacamata yang lebih luas oleh Allah, masih diberikan waktu untuk mencintai diri saya sendiri lebih lama dan untuk memperbaiki apa yang salah selama ini.

Sampai saat ini saya masih belajar tertatih untuk memahami apa yang sedang saya lalui. Membutuhkan kesabaran ekstra, penerimaan yang lapang, dan usaha yang tak putus untuk berdiri lagi seperti sedia kala. Saya masih belajar untuk menikmati semua prosesnya, tak jarang jatuh dan bangun saya alami selama masa-masa ini. Saya masih harus berhadapan dengan semua kejadian di masa lalu yang satu persatu terkadang menghampiri pikiran dan masih berusaha untuk menerima semuanya. Luka yang ditinggalkan pun akan membutuhkan waktu untuk bisa diterima oleh hati hingga suatu saat nanti saya akan menikmatinya dan tersenyum syukur bahwa Allah Maha Baik telah menempatkan saya melewati masa-masa pendewasaan ini. Dan satu yang pasti, saya tahu ketika saya bisa berdiri tegak lagi nanti, saya sudah memiliki bekal baru untuk mengarungi kehidupan yang tidak terduga di depan sana.

Maka, menjadi pengingat untuk saya bahwa semua hal jangan terlalu terburu-buru dan tidak apa-apa memberikan yang terbaik untuk orang yang disayangi (tapi jangan lupa sisakan untuk dirimu sendiri ya!), karena itu memperlihatkan kualitas dirimu dalam kondisi apapun juga. Hargailah mereka yang berjuang untukmu, yang menunggumu dengan sabar, yang menghiburmu kala duka, yang selalu ada disampingmu saat susah dan senang. Jangan lupa juga untuk melibatkan Allah swt dalam setiap langkah dan berharaplah hanya kepada-Nya. Ambil waktu yang dibutuhkan untuk menyembuhkan diri dan nikmati setiap prosesnya--meski pun sakit, meski pun sulit. It's okay, take your time but make it efficient :)

Semoga kita senantiasa menjadi manusia yang selalu bersyukur ya! Aamiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Entah

Filosofi Mengendarai Motor

Bloom & Fall