(Tidak) Sendiri

Well, hello again. 2014 has been a crazy year. Many things happened and occured, so I'm just gonna sum it up in the end of the year. It's tiring me out physically and mentally, but I believe those are all worth it :)

Awal Tahun
Alhamdulillah di akhir tahun 2013 kemarin saya dikasih kepercayaan untuk jadi bendahara I sebuah acara berskala nasional yang diadakan oleh jurusan saya, Ilmu Kesejahteraan Sosial UI, yang biasa dinamakan Social Wellfair (Socwef). Social Wellfair ini adalah serangkaian acara yang mengangkat isu-isu terhangat terkait kesejahteraan sosial. Kebetulan tema yang diangkat saat itu mengenai Corporate Social Responsibility (CSR) yang mengundang berbagai narasumber terkait dan delegasi (mahasiswa/i) dari jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial di PTN/PTS/Sekolah Kedinasan lain di seluruh Indonesia. Saya dipasangkan dengan senior saya, dimana dia menjabat sebagai bendahara umum. Saya juga agak kaget karena tiba-tiba saya ditunjuk untuk menjadi bendahara I, padahal saya pun ga tau kalo Project Officernya udah di bidding hahaha. Tapi ya berarti yang kasih amanah ini percaya kalau saya mampu menjalankan peran dengan baik, bismillah. Awalnya sempat deg-degan juga sih, secara saya jadi bendahara acara skala nasional dan pasti akan mengelola uang yang jumlahnya ga sedikit. Challenging banget kayaknya buat saya.

Di awal tahun 2014 ini, rangkaian acara Socwef ini pun dimulai. Pemasukan untuk acara pun perlahan tapi pasti mulai muncul. Eh tapi kok, senior saya ga pernah keliatan ya? Usut punya usut, senior saya ini memang sedang sibuk dengan praktikumnya. Ya, mau gimana lagi.. Wah, berat banget rasanya harus mengatur keuangan yang ga sedikit di Socwef. Apalagi saat itu perputaran uang sangat cepat dan banyak printilan kecil yang harus diperhatikan, jadi semakin bingung huhu.

Saya yang punya ilmu seadanya banget ini, benar-benar sempat kewalahan di awal acara karena bingung mengatur cash flow-nya gimana. Saya sempat bingung juga untuk mengakali supaya ga defisit, secara saat itu susah banget buat cari sponsor apalagi karena jurusan saya ga se-hits jurusan sebelah jadi sangat sedikit perusahaan yang tertarik mau mensponsori acara kami hiks. Saya harus berpikir keras mana aja pos-pos pengeluaran yang bisa ditekan dan ga diperluin banget. Saya juga dituntut buat jadi lebih tegas dan disiplin buat semua panitia yang berurusan dengan keuangan huahaha maafin saya ya. Habis kalau ga gitu, nanti jadi longgar kendali keuangannya. Semenjak jadi bendahara Socwef kerjaan saya kemana-mana bawa-bawa map tebel yang isinya kalau ga bon, ya catatan pemasukan dan pengeluaran, plus kwitansi. Pas lagi kelas juga pikirannya malah ke Socwef dan ngitungin duit mulu kerjaannya. Begitu aja terus sampe Socwef selesai hahaha.

Memang berat awalnya, tapi saya bersyukur banget dikelilingi sama teman-teman yang alhamdulillah baik banget! Ada Valdi si Project Officer, Dhea si Wakil PO, dan Asher si Sekretaris. Kalau ga ada mereka, ga tau lagi nasib saya gimana. Mereka benar-benar bantuin saya banget dari hal-hal printilan seperti bon sampai yang besar-besar seperti saat kita terima sponsor yang lumayan banyak, mereka bantuin saya buat menyusun cash flow Socwef. Masih ingat sih, kita berempat sering banget ngumpul bareng dan mereka dengan relanya saya ajak pusing-pusing buat bantuin saya saat ada catatan keuangan yang miss. Ga jarang kita cuma bisa diam saat ga nemu-nemu kemana pengeluaran ini atau darimana pemasukan itu, terus ditambah dengan muka pasrah plus bingung hahaha kangen! Belum lagi saat mengurus permohonan dana ke Mahalum yang super ribet dan harus bolak-balik berkali-kali pantang menyerah. Semua prosesnya ditemenin sama mereka huhuhu terharu banget. Sampai akhirnya rangkaian acara selesai, mereka selalu bantu dan dukung saya. Dan apa yang saya takuti, yaitu keuangan defisit, tidak terjadi sama sekali dan justru kita surplus banyak--seenggaknya masih bisa farewell bareng semua panitia di sebuah tempat makan dan masih sisa pula uangnya. Alhamdulillah :)

Pertengahan Tahun
Pertengahan tahun kali ini diwarnai dengan drama pertemanan antara saya dan salah satu teman dekat kuliah saya (sebut saja X). Saya dan X ini memang cukup dekat. Sering makan bareng, pulang kuliah naik kereta bareng, tugas kelompok bareng, kalau di kelas duduknya selalu berdekatan, kemana-mana bareng deh kalau yang berkaitan sama perkuliahan. Suatu ketika, entah kenapa, si X ini ngambek sama saya dan dua teman dekat saya lainnya. Saya benar-benar clueless kenapa dia tiba-tiba ngambek padahal sebelumnya baik-baik aja. Semenjak itu, dia jadi ngejauh dari saya dan dua teman saya. Saat itu saya semester 4 dan kebetulan banyak banget mata kuliah yang mengharuskan saya kerja berkelompok. Dan ya, bisa ketebak dong kalau saya banyak yang satu kelompok sama si X. Long story short, saya ga tahan kalau harus memperpanjang masalah dan saya memutuskan untuk konfrontasi si X. Saya tanya alasan dia marah dan dia cerita ke saya dan dua teman saya. Singkatnya lagi, saya yang meminta maaf ke X ini. Semata-mata demi pertemanan kami saya harus berbesar hati.

Masalah kami pun sudah clear, namun si X ini berubah menjadi lebih pendiam dan cuek. Kami jadi jarang mengobrol lagi dan mengobrol seadanya aja saat ada kepentingan tugas kuliah. Singkat cerita lagi (karena terlalu panjang kalau diceritakan semuanya haha), si X menebar omongan yang kurang mengenakkan tentang saya dan sangat memojokkan saya huhu. Teman-teman dekat saya pun paham siapa yang melebih-lebihkan dan tidak, tanpa perlu saya lelah-lelah menjelaskan kepada mereka. Memang ga ada yang tau ya, kapan teman sendiri bisa menjadi musuh dalam selimut :)

Akhir Tahun
Di akhir tahun ini, saya diberi amanah untuk jadi Kepala Divisi Keilmuan. Hmm jujur sih awalnya ga tertarik untuk jadi Kadiv Keilmuan karena ga tertarik sama ranah kerjanya hahaha. Tapi setelah ditimbang-timbang, akhirnya saya memutuskan untuk menjalani amanah tersebut. Dengan keterbatasan SDM di jurusan saya, staf divisi saya pun ikutan jadi minim juga. Saya hanya punya satu Wakadiv, dan dua staf. Wakadiv saya sibuk kegiatan di tingkat universitas, sedangkan dua staf saya sibuk juga di organisasi tingkat fakultas.

Di akhir tahun, FISIP selalu mengadakan acara rutin yang dinamakan Lomba Ilmiah Mahasiswa (LIMAS) FISIP UI. Finalis-finalis yang berhasil menjadi pemenang masing-masing cabang lomba nantinya akan dikirim ke Olimpiade Ilmiah Mahasiswa (OIM) UI untuk mewakili FISIP. Dengan banyaknya cabang lomba, saya sangat kewalahan untuk mencari peserta di jurusan saya yang bersedia untuk mengikuti lomba. Apalagi minat keilmuan di jurusan saya sangat minim dan jumlah mahasiswa yang tidak banyak juga menjadi kendala. Saya harus approach orang-orang secara pribadi agar bersedia mengikuti cabang lomba yang ada. Saya juga harus mencari mentor untuk beberapa cabang lomba seperti essay, trivia, Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Selama persiapan LIMAS pun saya juga harus bolak-balik ikut technical meeting untuk mengawal dan merevisi peraturan dan teknis pelaksanaan lomba serta melakukan sosialisasi ke BPH Inti HMIKS dan peserta lomba di jurusan saya. Saya juga berusaha untuk terlibat di salah satu cabang, yaitu PKM Kewirausahaan (PKM-K) bersama dengan satu senior dan satu teman seangkatan saya.

LIMAS diadakan selama kurang lebih 2 minggu. Saya sempat bolos kuliah selama seminggu (ga seminggu full sih, tapi kebanyakan bolos kelasnya hehe). Saya bela-belain di awal semester untuk masuk kelas terus, supaya jatah bolos 3x per mata kuliahnya masih ada dan bisa dipakai saat LIMAS ini. Saya ingat banget most of the time selama persiapan LIMAS, mau pun saat hari-H LIMAS, saya bolak-balik sendirian kesana-kemari karena teman-teman satu divisi sibuk hal lain. Saya sempat ingin menyerah karena terlalu berat semua tanggung jawab yang saya jalani saat itu. Tapi, kalau bukan saya, siapa lagi? Orang-orang sudah mempercayakan amanah tersebut kepada saya, jadi saya harus melakukan usaha terbaik saya.

Saya ingat sekali saya sampai harus keseleo segala karena saya lari-larian sendirian di tangga depan gedung Nusantara untuk monitor lomba poster di Plasa FISIP hahaha. Kalau ingat betapa riweuh dan hectic-nya saat itu, jadi kangen juga sih hehe. Namun, saya tidak benar-benar sendiri. Teman-teman BPH Inti HMIKS banyak membantu saya juga dalam memberikan saran dan kritik yang membangun atau untuk sekedar memberi semangat dan membantu untuk melakukan koordinasi dengan peserta di beberapa bidang lomba. Mereka pun juga dengan sukarela membantu saya untuk menjadi penanggung jawab di beberapa cabang lomba. Saya bersyukur sekali memiliki teman-teman yang sangat pengertian dengan kondisi divisi keilmuan yang serba minim ini, mau saling membantu untuk meringankan pekerjaan, dan saling menguatkan. Terharuuu sekali rasanya. Meski pun hasil akhir LIMAS belum sesuai harapan, namun saya yakin itu adalah hasil usaha terbaik saya dan teman-teman. Apa pun hasilnya tetap harus disyukuri, apalagi saya jadi belajar banyak hal setelah melewati masa-masa itu.
--------
How unexpected things could turned out, right? Banyak hal yang harus disyukuri di tahun ini. Saya belajar untuk bertahan di situasi yang tidak terduga dan harus bisa beradaptasi dengan itu semua, meski pun harus merasakan ketidaknyamanan dulu. Saya juga berprinsip untuk tetap bersikap baik terhadap orang yang pernah berusaha menjatuhkan dan menyakiti. Nantinya orang-orang yang awalnya memandang sebelah mata karena salah paham, akan dengan sendirinya melihat mana yang benar dan yang tidak. Saya tidak perlu lelah-lelah harus membuktikan dan menjelaskan ke orang-orang mana yang benar, yang penting saya tetap melakukan hal-hal yang menurut saya itu baik. Saya terus menerus menanamkan prinsip itu di dalam diri saya, secara ga langsung juga akan membuat hati kita lebih adem. Percaya deh.

Last but not least, kalau kita mau sisihkan waktu sebentar aja dan menyadari bahwa banyak loh orang-orang yang peduli sama kita--setidaknya itu yang saya rasakan. Saya amat sangat bersyukur teman-teman saya mau membantu saya saat keadaan sulit dan selalu ada untuk menjadi tempat berbagi pikiran sehingga saya tidak merasa bahwa saya sendiri di fase-fase tersebut. Saya benar-benar ga tau apa lagi yang harus saya utarakan selain rasa syukur. Tentu semuanya juga ga terlepas dari bantuan Yang Maha Esa, Allah swt yang sudah mengenalkan saya dengan orang-orang hebat tersebut. Terima kasih ya Allah, terima kasih juga teman-temankuuu! Terima kasih 2014 telah mengajarkan saya banyak hal untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa, lebih sabar, dan berpikiran terbuka :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Entah

Filosofi Mengendarai Motor

Bloom & Fall