Menyelesaikan Diri Sendiri

Beberapa hal memang terjadi secara tiba-tiba dan tanpa peringatan. Mungkin memang saya yang tidak menyiapkan diri dengan baik, sehingga saat hal itu datang menjadi terasa berat dan sulit dilalui. Waktu tetap berputar, namun semua perasaan "baru" yang ada pada diri saya masih menetap. Saya berpikir untuk cepat-cepat membereskan dan menyudahinya agar semua dapat kembali seperti dahulu sebelum badai itu datang. Tetapi saya tersadar bahwa semua tidak akan pernah kembali ke tempatnya seperti semula setelah apa yang masing-masing dari kita lalui. Semuanya akan berada pada posisi yang berbeda.

Cara berpikir, cara kita menanggapi sesuatu, bahkan perasaan kita, tidak akan pernah sama lagi seperti sedia kala. Entah berkurang atau bertambah, yang pasti semuanya akan berubah. Saya ingin menyelesaikan diri saya sendiri sebelum saya harus berhadapan dengan sosok yang baru lagi, dan ternyata menyelesaikan diri sendiri itu tidak mudah..

Menyelesaikan diri sendiri bagi saya termasuk menerima semua perasaan tidak nyaman, memahami bahwa memang fase inilah yang harus dilalui tanpa perlu penolakan, merapikan segala hal yang tidak pada tempatnya, dan mengambil semua hikmah dalam setiap kejadian. Saya masih terus berusaha mengingatkan diri saya sendiri bahwa semua terjadi karena sebuah alasan. Apa-apa yang terjadi memberikan pelajaran yang sangat berharga tentang kehidupan dan tentang Sang Pencipta. Jika saya belum dapat menyelesaikan diri saya sendiri, bagaimana saya dapat menjaga hati seseorang yang baru lagi? Bukankah akan lebih sulit menjalani bagi keduanya nanti?

Kadang ketika kita belum menyelesaikan diri kita terhadap masa lalu, saat masa depan menyambut tak jarang kita akan berbalik arah ke masa lalu lagi. Oleh karena itu, selesaikanlah terlebih dahulu apa-apa yang belum selesai di masa lalu dan kemudian persiapkan diri untuk melangkah ke masa depan, tanpa harus berputar arah ke masa lalu kembali. Simpan dengan baik yang sudah terjadi di masa lalu dan terima bahwa itu adalah bagian dari diri kita yang tidak bisa dihapus.

Biar saya saja yang bertanggung jawab untuk membereskan apa-apa saja yang sedang tidak pada tempatnya saat ini. Semua luka yang pernah tertoreh, tidak akan pernah menghilang. Saya hanya menjadi lebih kuat dalam menghadapi hal tersebut. Bagi saya, ini adalah kesempatan untuk memahami diri lebih jauh, melihat seberapa kuat saya bisa bertahan, dan bagaimana saya menghadapi berbagai situasi tidak nyaman yang muncul.

Entah akan berapa lama semua proses ini akan saya jalani. Namun, jika tiba saat yang tepat nanti dan sosok yang ditakdirkan untuk saya datang, saya pastikan kalau saya sudah siap menyambutnya di ruang hati saya dengan luka-luka yang saya bingkai. Saya akan sapa dengan hangat, menceritakan tentang luka itu, dan siap merangkulnya erat untuk bersama membuat cerita baru di sisa umur kami. Semoga :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Entah

Filosofi Mengendarai Motor

Bloom & Fall