2018

2018 sudah hampir selesai. Satu tanggapan buat tahun ini: luar biasa. Luar biasa menguras emosi, luar biasa proses memahami diri, luar biasa karena banyak hal-hal baru yang terjadi. 

Banyak cerita di tahun ini yang memberikan kejutan, dari yang turun hingga rasanya ga sanggup buat berdiri, sampai yang bikin hati senang lagi. Entah udah berapa kali nangis di tahun ini. Kayaknya Ajeng si cengeng comeback di tahun ini hahaha. Di tahun ini saya pernah menangis dengan begitu khidmatnya, sampai rasanya sesak sekali dada ini. Menangis sendirian dengan Allah saksinya pun pernah saya lakui. Mukena basah kuyup karena air mata saya, hidung mampet karena kebanyakan nangis, hingga kesehatan saya terganggu. Entah kenapa sebegitunya saya menangis. Mungkin saat itu saya pikir dunia saya runtuh seketika, jadi saya harus maksimal dalam menangis haha. Di sisi lain, teman-teman saya bilang kalau saya makin lucu. Saya juga ga sadar kalau sekarang saya jadi suka ngelawak. Kayaknya bikin senang orang lain adalah salah satu cara saya untuk mengatasi perasaan sedih di dalam diri saya hehe.

Di tahun ini ada beberapa momen yang membuat saya akhirnya keluar dari zona nyaman, menghadapi kenyataan kalau harapan ga melulu bisa tercapai, kalau beberapa mimpi-mimpi saya ternyata bukan yang saya butuhkan. Allah Maha Tahu. Tahun lalu, saya berharap bisa menikah di tahun 2018 ini. Tahun lalu, saya memimpikan pekerjaan impian saya. Dan masih banyak harapan serta mimpi yang belum tercapai di tahun 2018. Saya akhirnya paham bahwa ga semua yang saya inginkan itu adalah yang saya butuhkan. Mungkin aja di depan sana Allah menyiapkan rencana yang lebih baik untuk saya. Tugas saya saat ini adalah untuk berpasrah, terus berusaha, dan konsisten berdoa meminta pada-Nya.

Dalam suka dan duka selama perjalanan, saya selalu berusaha menghargai setiap suasana hati yang hadir. Sedih banget, sedih aja, senang, excited, kecewa, marah, takut, semuanya harus saya proses sebaik-baiknya dalam diri saya. Satu yang pasti, saya harus bisa menerima perasaan apapun yang datang pada saya. Saya ga mau menolak perasaan-perasaan itu karena merasa ga nyaman untuk menjalaninya. Ya.. Emang ga bisa dipungkiri kalau sangat ga nyaman dengan kehadiran beberapa perasaan itu, tapi saya harus menerima kalau saya juga bisa merasakan perasaan ga nyaman tersebut. Dengan begitu, saya bisa mencari solusi terbaik buat bertahan saat perasaan-perasaan itu datang. Supaya ga baper lama-lama, gitu.

Di satu waktu saya yakin, di waktu yang lain saya ragu bukan main. Banyak pertanyaan untuk diri saya sendiri dan banyak juga kesempatan untuk berbenah. Banyak banget pertanyaan di dalam otak saya ini. Entah pertanyaan untuk diri saya sendiri atau untuk orang lain. Saya juga sempat merasakan fase-fase kepercayaan diri saya runtuh gitu aja. Merasa kurang, merasa ga secantik orang lain, merasa ga ada apa-apanya. Di tahun ini saya banyak menolong diri saya sendiri. Buat balikin kepercayaan diri lagi, buat keluar dari perasaan sedih terus menerus, buat percaya lagi sama orang lain, dan seterusnya. 

Tahun ini pun begitu banyak hikmah yang bisa diambil; tentang menggantungkan harapan hanya pada-Nya, mengikhlaskan, memperjuangkan, menyederhanakan pikiran, menghormati perbedaan, dan tentang memahami diri sendiri. Sesungguhnya hikmah terbesar yang bisa saya ambil di tahun ini adalah tentang menggantungkan harapan hanya pada Allah semata. Ga akan ada rasa kecewa yang teramat sangat atau rasa sedih yang menyakitkan. Lelah pasti ada, rasanya ingin buru-buru melewati semua fase-fase ga nyaman ini. Tapi kalau ga dihadapi, saya melewatkan kesempatan untuk bertumbuh dan mungkin ga akan ada lagi fase-fase seperti ini kedepannya.

Sesungguhnya dibalik banyaknya luka yang tertoreh, senyum yang meredup, dan hati yang hampir menyerah, banyak banget orang-orang di sekitar yang masih sayang dan mau menemani di setiap beratnya langkah, masih ada orang-orang yang mau berbagi bahagia sama diri ini. Rasanya ga ada alasan lagi untuk sedih terus menerus. Karena sedih pun ga akan selamanya, begitu pun dengan bahagia. Apapun kondisinya, sekarang lebih belajar untuk berlapang dada dan banyak bersyukur. Tahun ini begitu banyak memori sedih dan senang yang patut untuk disimpan dan dijadikan pelajaran. Sekarang waktunya bersiap diri untuk cerita-cerita lain berikutnya. Semoga Allah selalu berikan kekuatan di setiap langkah, aamiin :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Entah

Filosofi Mengendarai Motor

Bloom & Fall